Perempatan Jembatan Tol 2 Bang..”
Baru kali ini saya melihatnya. Perempuan. Dan sekarang ia sudah duduk di belakang saya.
Alhamdulillah, pagi sangat cerah, setidaknya untuk menghangatkan perapian harapannya.
Begitulah sepenglihatan saya.
Ia muda, namun pekerja keras.
“Saya dapat Rp. 5000 untuk menjual habis sekantong ini..terkadang hanya Rp. 2000 bang..”
Mengapa ia melakukannya?? Ah, sedikit sekali.
Dibandingkan jarak yang harus ditempuh?
“Pekan ini kan maulid bang, nenek ingin membuat makanan untuk diantar saat acara di masjid..
Orangtua saya di Ketapang, saya juga bantu bantu nenek untuk makan sehari hari. Kalau tidak terjual, mungkin kami makan seadanya..”
Di usiamu, nasib tak semanis umumnya.
“Saya berhenti kelas 6 SD bang..”
Selepas itu bisu menghijab kami.
Saya pun sibuk: berandai andai.
“Terima kasih, bang..”
***
Hari itu, saya hanya bisa sedikit menolong. Mengantar. Kami bertemu di jalan.
Hati saya menghentikan laju motor saat ia melambaikan tangannya yang tirus. Ia, perempuan usia 14 – 15 tahun membawa sekantung kresek kecil ikan sungai yang telah ditangkap oleh orang lain. Semacam reseller. Lokasi lapaknya, 4 – 5 KM dari tempat kami bertemu. Dan sepertinya ia tak kuasa untuk naik angkutan umum, juga selain karena armadanya yang terlampau sedikit. Ia berkejaran dengan waktu dan wajah neneknya. Fisiknya–mata–yang tak seindah umumnya manusia, membuat orang orang melirik pada kami.
Dan, hari itu juga, senja
Saya bertemu kawan lama. Ikhwah IPB, adik kelas, bersama isterinya.
Setelah berbincang, satu box donat 1 lusin dari gerai franchise terkenal mereka alamatkan pada saya.
Hari itu menjadi teka teki.
Bersyukur? Pasti.
Pontianak | @AditHerry