Rainwater Harvesting a.k.a Memanen Air Hujan

bismillah…

saya sesekali iseng2 mikir kok ya sering banget terjadi banjir di beberapa wilayah indonesia. saya bukan mikir tentang fenomena banjirnya, melainkan banyaknya air langit yang saban musim hujan jatuh sia-sia jadi banjir..kan kayaknya bagus tuh kalau ditampung lalu dipakai untuk keperluan sehari-hari, lumayan bisa menghemat pengeluaran untuk tagihan PDAM, hehe.

suatu saat saya menonton program televisi yang membahas tentang ide menyelamatkan bumi. tayangan ini nggak membahas tentang serangan alien atau kiamat dan horrible disaster lainnya, tapi menampilkan ide-ide kecil yang bisa membuat umur bumi jadi lebih panjang. yup! ecofriendly ideas. kebetulan pas membahas tentang air.

Continue reading “Rainwater Harvesting a.k.a Memanen Air Hujan”

EKO-EDUKASI: PARADIGMA BARU PENDIDIKAN BERMUTU KOLABORASI SISWA SEKOLAH DI PERKOTAAN DAN DI PESISIR DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Aditya Herry Emawan, Asep Rudini Setiawan, Musyawarah Najamuddin,

Ferdian Elnurfajri, Vina Darmawan.

Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

ABSTRAK

Kepedulian lingkungan adalah jiwa dari sustainable development (pembangunan berkelanjutan), menjadi karakter yang mampu membuat bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Beragam permasalahan banyak berawal dari lingkungan, seperti banjir, red tide, pencemaran minyak, demam berdarah, flu burung dan sebagainya mampu terselesaikan jika karakter ini menghujam kuat di masyarakat. Untuk itu aspek lingkungan merupakan hal penting yang harus ditanamkan sejak dini. Penerapan metode yang efektif di sekolah umum dalam mempelajari sains dan lingkungan memegang peranan penting. Eko-Edukasi sebagai paradigma baru pendidikan lingkungan ketika diimplementasikan diharapkan mampu mengisi kekosongan metode/konsep di sekolah umum. Dengan metode active learning dan learning by doing Eko-Edukasi berhasil mencptakan suasana yang efektif dalam belajar lingkungan. Peserta (SD dan SMP) diajak berpetualang melihat laut, menanam mangrove, snorkeling dan melepas penyu yang dikombinasikan dengan coastal games. Dari respon (kuisioner dan evaluasi) yang ada, dalam diri peserta timbul rasa simpati dan cinta terhadap lingkungan laut, yang kemudian mengarah pada timbulnya rasa peduli terhadap laut. Program ini diharapkan mampu berjalan sustainable walau dengan tempat dan penyelenggara yang berbeda. Penyediaan buku/petunjuk pelaksanaan program Eko-Edukasi untuk sekolah-sekolah dan mengadakan kerjasama dengan lembaga pemerintah adalah salah satu solusi. Yang utama setelah program Eko-Edukasi ini selesai ialah penyiapan event organizer dan penyandang dana agar kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja.

Kata Kunci : lingkungan, sustainable, metode pembelajaran, laut, Eko-Edukasi

PEMBUATAN PROTOTIPE ALAT SOLAR DRYER BERBASIS TENAGA SURYA HYBRID SISTEM PORTABLE

PEMBUATAN PROTOTIPE ALAT SOLAR DRYER BERBASIS TENAGA SURYA HYBRID SISTEM PORTABLE


Muhammad Iqbal Hanafri, Aditya Herry Emawan,

Eni Kustanti, Evi Lestari Rahayu.

Departemen Teknologi Hasil Perairan,

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

ABSTRAK. Indonesia memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut yang sangat besar. Selain ikan yang melimpah, ada satu biota potensial yang banyak ditemukan di seluruh perairan. Biota itu ialah rumput laut. Pembuatan sebuah alat yang dapat meningkatkan kualitas produksi rumput laut sekarang ini sangat diperlukan, terutama terkait dengan higiene, kadar air,lama pengeringan serta kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu, mengingat permintaan yang besar di dalam maupun luar negeri. Melalui perancangan knock-down (portable) solar dryer berbasis tenaga surya dan energi mekanik (kipas dan kompor) ini rumput laut dapat dikeringkan dengan baik. Alat pengering ini terbuat dari bahan-bahan yang bersifat konduktor serta mempunyai kolektor panas khusus. Selain itu pada alat ini terdapat saluran sirkulasi dan dengan model alat yang tertutup. Pada prinsipnya aplikasi alat ini persis dengan sistem rumah kaca. Uji coba yang dilakukan menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara pengeringan alami/terbuka dengan pengeringan solar dryer. Nilai kadar air akhir rumput laut setelah dikeringkan dengan pengeringan solar dryer lebih rendah daripada pengeringan alami. Lalu suhu pengeringan di dalam solar dryer lebih tinggi daripada suhu pengeringan alami. Kelembaban udara relatif lebih rendah pada pengeringan solar dryer daripada pengeringan alami. Ini menunjukkan tngkat efektifitas yang cukup tinggi ketika menggunakan solar dryer daripada menggunakan pengering alami.

Kata Kunci : pengeringan, solar dryer, rumput laut, temperatur, efektif

Conducting LC50 test

Penelitian (uji) dilakukan dalam dua tahap, yaitu uji pendahuluan dan uji utama. Peralatan yang digunakan di dalam penelitian ini antara lain biota uji, media uji,  peralatan kultur seperti akuarium dan gelas piala, alat gelas, alat ukur kualitas air, timbangan, serta wadah uji.
Beberapa lembaga ilmiah di Amerika Serikat telah mengeluarkan beragam metode kerja dalam uji toksisitas akut (LC50). Sebagian besar metode kerja dalam penelitian ini diadopsi dari Standard Method for the Examination of Water and Wastewater (Eaton et al. 1995). Continue reading “Conducting LC50 test”

Menjadi Besar Tanpa Harus Merasa Besar

Teringat saat kuliah dulu…saya menjadi sangat salut dan terinspirasi oleh keberadaan fitoplankton..tahu mengapa?

~~~

Semua tumbuhan hijau dikaruniai ikatan-ikatan kompleks yang membentuk suatu pigmen warna, chlorophyll namanya. So well-known, materi ini mampu mengoksidasi karbon dioksida sehingga menghasilkan oksigen, plus elektron2 yang mereka pakai untuk mensintesis karbohidrat, makannya sendiri. Ukuran penghasilan karbohidrat ini dikenal dengan istilah Produktivitas Primer (PP), dengan satuan gram karbon (C) per meter kuadrat per tahun. Seingat saya, dalam kuliah, di alam ini fitoplankton menjadi kumpulan organisme nomor satu dalam perolehan PP. Continue reading “Menjadi Besar Tanpa Harus Merasa Besar”

Ikan Berbisa lebih banyak Ular Berbisa … ???

bismillah..

Ada informasi menarik yang diungkapkan oleh William Leo Smith, peneliti pada the American Museum of Natural History di New York. Penelitian hasil kerjasama dengan Ward Wheeler, Kurator the Museum’s Division of Invertebrate Zoology ini mengungkapkan bahwa terdapat lebih banyak spesies ikan berbisa dibandingkan dengan ular berbisa. Continue reading “Ikan Berbisa lebih banyak Ular Berbisa … ???”